Makalah Islam dan Budaya Jawa



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, salah satu akibat dari kemajemukan tersebut adalah beraneka ragamnya ritual keagamaan yang dilaksanakan dan dilestarikan.
Kebudayaan merupakan hasil pemikiran dan perasaan manusia. Kebudayaan adalah semua produk aktifitas intelektual manusia untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dunia. Sedangkan agama merupakan sesuatu yang datang dari tuhan untuk menjadi pedoman hidup manusia dan menjadi kesejahteraan bagi manusia baik di dunia maupun di akhirat.
Islam jawa yang identik dengan corak tradisi adalah cerminan watak dasar masyarakat yang sangat sensitive dengan rasa toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Sehingga akar kebersamaan begitu berpengaruh dalam harmoni masyarakat. Dari aktivitas beradat atau bertradisi ini terbangun budaya dan masyarakat kebudayaan. Islam menyentuh bagian paling privat dari masyarakat budaya dengan membentuk akal budi manusia, menelisik batin untuk menyambungkan diri terhadap Sang Pencipta.
Tradisi merupakan suatu kebiasaan masyarakat yang secara historis keberadaannya dan keberlangsungannya bersifat turun temurun.
Di jawa, ulama – ulama asal Mesir, Iran, Gujarat banyak memberi warna adat jawa dan banyak melahirkan tradisi yang kental dengan karakter masyarakat. Seperti gending –gending dan aneka selametan yang mereka gunakan sebagai sarana dakwah, pengajaran serta sarana untuk tetap bisa berkomunikasi dengan masyarakat. Lambat laun, masyarakat jawa memahami tradisi ini sebagai agama itu sendiri, mereka mempertahankannya, dan mereka patuhi ajaran dan falsafah hidup di dalamnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja tradisi dan upacara adat yang bersifat individual di jawa ?
2.      Bagaimana interelasi antara nilai islam dan jawa terhadap tradisi dan upacara adat ?








BAB II
PEMBAHASAN
1.      Tradisi dan Upacara adat yang bersifat individual di Jawa
a.      BAYEN
Masa mengandung memang mendebarkan. Ada sejuta harapan yang dipersembahkan untuk calon bayi yang akan lahir. Oleh karena itu, berbagai ritual keselamatan dilakukan guna mengharapkan yang terbaik dan menghindari kemungkinan buruk.
Adat istiadat jawa mengemas banyak sekali ritual yang harus dilakukan. Di samping sebagai tradisi, juga memuat pesan dan ajaran kesusilaan yang disisipkan. Terkadang juga mengandung nilai mitos. Tradisi yang melingkupi dalam tradisi bayen di Jawa, pada dasarnya tak lepas dari nilai pesan, mitos, sajen untuk pengharapan keselamatan.
Ø  Kehamilan
Pada tradisi ketika hamil, untuk upacara lima bulan disebut nglimoni. Kemudian di usia enam bulan, dan pada upacara tujuh bulan disebut dengan ningkepi. Dan waktunya harus mengikuti tradisi. Memilih tanggal yang ganjil dan sebelum tanggal 15 menurut kalender jawa. Biasanya dilaksanakan pada siang hari, agar mendapat berkah bidadari yang turun dari kahyangan, sebab berkembang mitos. [1]
Selain itu, masih banyak tradisi yang berkembang di unit – unit masyarakat. Menurut mitosnya, agar bayi tidak lahir cacat secara mental atau fisik, calon ibu dan ayahnya harus ekstra hati – hati menjaga ucapan dan tidakan terhadap orang lain. Misalkan calon ibu atau ayah tidak boleh mengolok – olok orang cacat fisik, membunuh binatang, dsb.
Ø  Kelahiran
Saat kelahiran, banyak adat yang harus dijalankan yang bernuansa mitos. Semua dimaksud untuk keselamatan bayi.[2]
·         Ngetok usus : pusar bayi diurut agar darahnya mengumpul dan kemudian dipotong.
·         Mendhem ari – ari : mengubur ari – ari ( selaput tipis pembungkus bayi dan kulit tipis yang terletak dimuka bayi yang berisi air sebagai asupan makanannya.
·         Kopohan : jarit yang dipakai saat melahirkan dicuci bersih lalu disimpan.
·         Brokohan : sajen saat kelahiran bayi berpa telur mentah sesuai neptu dina lahir bayi, gula jawa, dawet.
·         Rencanan bayi : keyakinan kejawen, malam pertama sampai malam keempat bayi diganggu oleh roh.
·         Puput puser : dalam 5 hari – 2 minggu tangkai tali pusar bayi yang tersisa saat pemotongan pertama akan mongering dan terputus dari udel.
·         Kidungan : dulur dari si bayi perlu untuk ditidurkan dengan dinyanyikan tetembangan untuk mengusir roh jahat.
·         Sepasaran : bayi berusia 5 hari dilakukan selametan dengan tumpengan. Dalam sepasaran rambut si bayi di potong sedikit dengan gunting dan bayi diberi nama.
·         Jeneng : memberi nama
·         Selapanan : bayi berumur 35 hari, pada pokoknya sama seperti sepasaran. Namun rambut dipotong sampai habis.
·         Tedak siten : peringatan pertama kali untuk si bayi diinjakkan ke atas tanah.
·         Nyapih : ketika berumur 18 bulan atau 2 tahun.

Ø  Pra kanak – kanak
·         Gusaran : memangkur gigi atau mengasah
·         Tetesan : saat anak perempuan beranjak remaja ( 8 -10 th ), tiba waktunya ditetaki / khifadz.
·         Tarapan / gelwilada : untuk anak perempuan yang pertama kali haid.
·         Supitan : untuk anak laki – laki berusia 13 – 15 th yang waktunya dikhitan.
·         Windon : orang jawa kuno terbiasa menghitung dan memperingati usianya setiap sewindu, diperingati dengan selametan.

b.      MANTENAN
Adat temanten ala jawa yang banyak berkembang hingga saat sekarang adalah bentuk sinkretisasi pengaruh adat hindu dan islam. Dalam adat keraton dan kaum abangan sajen, hitungan, pantangan, dan mitos – mitos masih kuat mengakar. Bisa dijumpai di keraton Yogya, Surakarta, Cirebon, masyarakat tengger, masyarakat kampong dan keturunan keratin atau priyayi pada umumnya.[3]
Ø  Prosesi pra pernikahan
·         Weton, Neptu, Pasaran kedua mempelai harus cocok.
·         Sisetan : saat lamaran sudah diterima, diadakan pertemuan lanjutan yang lebih serius menuju pernikahan.
·         Pitung tuo, biasanya diadakan saat sisetan : penentuan hari ijab oleh para pini sepuh.
·         Sowan luhur : meminta doa restu kepada para sesepuh.
·         Wilujengan : ritual wujud permintaan kepada Tuhan agar dimudahkan segala hajatnya.
·         Pasang tarub : pemasangan symbol dan tanda kalau punya gawe
·         Sasrahan : pemberian ubo rampe persiapan pernikahan
·         Siraman : pemandian
·         Ngerik rekmo : seusai siraman calon pengantin wanita dibopong oleh ayah ibu menuju kamar pengantin.
·         Dodol dawet : ibu dari calon pengantin wanita dipayungi suami untuk berjualan dawet.
·         Dipingit
·         Diulik : disiapkan untuk menjalani hidup perkawinan
·         Midodareni : malam sebelum akad nikah, diadakan upacara temu.
·         Sanggan : tebusan dari pengantin laki – laki.

Ø  Prosesi pernikahan
Perempuan dirias dan menghampiri pengantin laki – laki dengan diiringi gending. Ketika sampai jarak 2 meter mereka saling lempar daun sirih dan yang kena tubuh diartikan sebagai dalam kehidupan perkawinan akan menang. Lalu pengantin laki – lakinya mendekati pengantin putrid yang berdiri di depan baskom berisi air bunga dan telur. Kemudian telur diinjak oleh mempelai laki – laki sampai pecah kemudian pengantin putrid membersihkan sebagai lambing ketaatan istri kepada suami. [4]
Selesai itu perempuan duduk di depan laki – laki dan membawa sehelai tikar yang berisi harta sebagai tanda siap menafkahi, selesai itu sebagai tanda kerukunan dalam keluarga dilakukan saling suap menyuap makanan antara pengantin, dan kemudian dilanjutkan dengan hiburan gending jawa.

c.       KEMATIAN
Berkenaan dengan kematian ada macam – macam tradisi jawa yang mempercayai eksistensi roh setelah terpisah dari raga, yang ditujukan sebagai penghormatan terakhir[5] seperti brobosan, yaitu jalan sambil jongkok melewati bawah mayat dari keluarga yang paling tua hingga termuda. Selametan untuk orang yang meninggal mulai dari :
·         Nelung dina
·         Pitong dinten
·         Petang puluh dinten
·         Nyatos dinten
·         Mendhak
·         Nyewu
·         Kol ( kol kolan )
Ritual – ritual tersebut biasanya digunakan oleh orang jawa.


2.      Interelasi antara nilai islam dan jawa terhadap tradisi dan upacara adat

a.      KELAHIRAN
Seperti dalam tradisi dan budaya orang jawa banyak sekali upacara adat yang dilakukan, yang tentunya antara daerah satu dengan yang lain berbeda, seperti mitoni, tingkeban. Dengan adanya pengaruh islam yang masuk pada tradisi dan upaca adat jawa, disitu dimulailah dalam upacara kelahiran diisi dengan pembacaan ayat Al – Qur’an seperti Surah Yusuf dan Surah Maryam, dengan harapan agar kelak anak yang dilahirkan menjadi seorang yang memiliki kesucian seperti maryam dan tampan seperti Yusuf. Selain itu diadakan pembacaan berzanji agar memiliki akhlak yang mulia seperti Rasulullah, atau pembacaan manaqib agar memili sifat seperti Syech Abdul Qadir Al- Jaelani.
Nama – nama yang baik dalam islam bisa diserap dan dicocokkan dengan rumus jawa. Seperti Bejo, Paijo ( serapan dari Faza ), Paidi ( serapan dari Faizin ). Symbol – symbol yang tidak ada pensia – siaan, bisa ditolelir, sebagaimana symbol dalam aqiqoh bayi.[6]

b.      PERNIKAHAN
Dalam pernikahan juga banyak sekali upacara dan tradisi adat yang dilakukan masyarakat jawa. Namun peran islam disini adalah dibuat sederhana agar dari golongan tengah ke bawah bisa mengikuti tradisi jawa dengan mudah.
Walimahan dalam pernikahan bukanlah hal wajib, jadi islam juga mengajarkan Mahar yang dikeluarkan juga tidak memberatkan, bisa dengan setiap benda yang punya nilai harga seberapapun remehnya atau jika memang benar – benar tidak mampu bisa dengan jasa pengajaran ilmu agama.[7]

c.       KEMATIAN
Upacara yang penuh dengan kesedihan ini biasanya di isi dengan kirim doa pada hari ketiga, ketujuh, empat puluh, seratus hari, dan seribu hari. Upara ini biasa di isi dengan pembacaan dzikir, tahlil, serta pembacaan Al – Qur’an yang dilakukan secara bersama – sama oleh keluarga.
Adapun orang laki – laki mengambil bagian menyiapkan keperluan pemakaman, mengiring ke pemakaman dan turut berdo’a. baik ketika dimakamkan, satu hari, tiga hari, dan seterusnya dengan penuh kesadaran. Tanpa dikomando oleh pak modin atau kerabat dekat akan mengatur dan turut menyiapkan keperluannya. Tentu pihak yang terkena musibah akan banyak terbantu dan senang dengan antusiasnya masyarakat untuk mendoakan orang yang telah meninggal. Dan dipandang sisi kemanfaatan bagi mayit juga lebih baik. Yakni dengan kiriman pahala bacaan Al – Qur’an, dzikir, sedekah, do’a, dari orang yang banyak.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
            Kebudayaan merupakan hasil pemikiran dan perasaan manusia. Tradisi merupakan suatu kebiasaan masyarakat yang secara historis keberadaannya dan keberlangsungannya bersifat turun temurun. Islam bukan agama yang hampa budaya. Islam hadir menyapa tradisi local secara adaptif. Mengisi ruang tradisi dengan nilai sakral dan spiritual. Pada akhirnya tradisi menjadi bagian nilai – nilai dalam tata norma agama. Nilai islam dan jawa dengan tradisi atau upacara adat memiliki hubungan yang erat. Dalam adat dan tradisi jawa, upacara – upacara adat tetap dilestarikan dengan memasukkan nilai agama islam. Keduanya berjalan secara selaras.



DAFTAR PUSTAKA
Isma’il, Ibnu. Islam Tradisi. Kediri. TETES Publishing. 2011
Wijaya. Islam Kejawen. Jakarta. PT. Serambi Ilmu. 2013


[1] Ibnu Isma’il, Islam Tradisi, (Kediri : TETES Publishing : 2011), hal 78
[2] Ibnu Isma’il, Islam Tradisi, (Kediri : TETES Publishing : 2011), hal 84
[3] Ibnu Isma’il, Islam Tradisi, (Kediri : TETES Publishing : 2011), hal 91
[4] H. Wijaya, Islam Kejawen, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu: 2013) hal 77
[5] Ibnu Isma’il, Islam Tradisi, (Kediri : TETES Publishing : 2011), hal 109
[6] Ibnu Isma’il, Islam Tradisi, (Kediri : TETES Publishing : 2011), hal 88
[7] Ibnu Isma’il, Islam Tradisi, (Kediri : TETES Publishing : 2011), hal 108

Komentar